Menu

Mode Gelap
Meski Wisata Ranu Regulo Dibuka, Jalur Pendakian Gunung Semeru Tetap Ditutup Kapolres Sebut Arus Balik di Probolinggo Ramai Lancar, Angka Kecelakaan Minim Mitigasi Bencana, BPBD Jember Siapkan Tiga Destana Baru Sosok Kakek Calang, Pembabat Desa Kamalkuning Probolinggo (1) Janda Muda di Probolinggo Ditemukan Bersimbah Darah Ditengah Jalan, Diduga Korban Pembunuhan Wisata Jeep di Gunung Semeru Lumajang, Menyusuri Rute Bekas Erupsi 2021 Silam

Nasional · 22 Okt 2019 06:02 WIB

Santri Era Industri 4.0 Harus Inovatif dan Adaptif


					Santri Era Industri 4.0 Harus Inovatif dan Adaptif Perbesar

PROBOLINGGO-PANTURA7.com, Hari Santri Nasional (HSN) 2019 dirayakan meriah di seluruh penjuru tanah air. Apel dan upacara hari santri menghiasi pesantren, instansi pemerintahan hingga lingkungan kantor aparat penegak hukum.

Pesantren Zainul Hasan Genggong, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, pun tak ketinggalan menggelar apel besar memperingati HSN ke 5, pada Selasa (22/10). Apel dimulai sekira pukul 07.30 Wib, secara serentak di 3 titik berbeda.

Tiga titik itu meliputi halaman Pondok Pesantren Zainul Hasan, halaman P5 Pesantren Zainul Hasan, dan halaman Pondok Puteri Hafshawaty Zainul Hasan. Pengasuh pesantren, KH. Muhammad Hasan Mutawakkil Allallah, memimpin langsung jalannya apel.

“Tahun ini kaum santri dan pendidikan pesantren dapat penguatan kembali melalui pengesahan undang-undang pesantren. Diharapkan melalui undang-undang ini santri dan pendidikan pesantren dapat menguatkan peran dan kontribusinya melalui fungsi pesanten dan dalam pemberdayaan masyakarat,” kata Kiai Mutawakkil saat membacakan amanah Ketua Umum PBNU.

Pengasuh PZH Genggong, KH. Moh Hasan Mutawakkil saat memimpin apel besar HSN 2019. (Foto : Kominfo PZH Genggong for P7.com)

Dalam amanah itu, dijelaskan pula bahwa santri di era perkembangan industri 4.0 harus kreatif, inovatif dan adaftif. “Santri dituntut untuk mengembangkan argumen moderat, kontekstual dan kompatibel dengan semangat membangun simbiosis islam dan kebangsaan,” tutur Kiai Mutawakkil.

Selain itu, imbuh Kiai Mutawakkil, santri tidak boleh kehilangan jati dirinya, berupa ciri sikap ahlakul karimah dan senantiasa menjunjung tinggi kiai. Karena menurutnya, santri adalah insan yag berahlak pesantren dengan kiai sebagai simbol.

“Meskipun santri telah melanglang buana menempuh pendidian ke manca negara, ia tidak boleh melupakan jadi dirinya,” begitu pesan yang dibacakan Kiai Mutawakkil. (*)


Penulis : Moh. Ahsan Faradies
Editor : Efendi Muhammad


Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

TP PKK Lumajang Tebar Ilmu Perkuat Iman dengan Kajian Tafsir dan Tahsin Al-Qur’an

27 Maret 2025 - 15:41 WIB

Hari ke-6 Ramadhan, Harga Komoditas Cabai Turun, Namun Masih Dikeluhkan

6 Maret 2025 - 14:56 WIB

NU Lumajang Beberkan Lima Keistimewaan yang Perlu Diketahui Saat Bulan Ramadhan

6 Maret 2025 - 11:54 WIB

Sekolah Rakyat Dibuka Tahun Ini, Mensos Gus Ipul: Dimulai dari SMA

4 Maret 2025 - 18:28 WIB

Tentukan Awal Ramadhan, NU Kota Probolinggo Tunggu Sidang Isbat

26 Februari 2025 - 09:28 WIB

Demo ‘Indonesia Gelap’ di Jember, Mahasiswa Tolak Efisiensi Anggaran

21 Februari 2025 - 20:06 WIB

Catat! Serangan Digital pada Perusahaan Media Siber Merupakan Bentuk Kekerasan terhadap Pers

21 Februari 2025 - 13:08 WIB

Gus Haris – Ra Fahmi Gladi Kotor di Monas Jelang Pelantikan

18 Februari 2025 - 15:42 WIB

Baru Sehari Uji Coba, Program MBG di Kota Probolinggo Dihentikan

18 Februari 2025 - 13:54 WIB

Trending di Nasional