Menu

Mode Gelap
Tepergok Curi Tas di Pemandian Banyu Biru, Pria ini Nyonyor Digebuki Warga Halal Bihalal di Pasuruan, Gus Hilman Gelorakan Semangat Pengembangan Riset dan Literasi Puncak Arus Balik, Jalur Lumajang – Malang Via Piket Nol Lancar Wisata Kuliner Lebaran, Menyantap Bakso Kabut di Jember Gunung Bromo Disesaki Wisatawan, Polres Probolinggo Jamin Keamanan Hadapi Puncak Arus Balik, ini Antisipasi KAI Daop 9 Jember

Pendidikan · 10 Jan 2020 06:00 WIB

Belajar di Tenda, Siswa-Siswi SDN Gunggungan Lor: Gerah


					Belajar di Tenda, Siswa-Siswi SDN Gunggungan Lor: Gerah Perbesar

PAKUNIRAN-PANTURA7.com, Hampir sepekan ini siswa-siswi di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Gunggungan Lor No 23, Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di tenda darurat. Hal ini terjadi karena ruang kelas atapnya ambrol dan sebagian kelas rawan ambruk.

Meski proses KBM tetap berjalan, namun siswa-siswi SDN Gunggungan Lor ingin secepatnya kembali belajar di dalam kelas. Sebab bejalar di tenda darurat membuat mereka merasa kepanasan

“Gerah, panas terus-terusan di tenda. Kalau hujan, suruh pulang sama pak guru,” kata Ahmad Davi (11), siswa Kelas IV SDN Gunggungan Lor, Jum’at (10/1/2020).

Davi dan 22 siswa-siswi SDN Gunggungan Lor lainnya, mengikuti KBM sebagaimana biasanya. Mereka masuk kelas sejak pukul 7.00 Wib dan pulang sesuai dengan peraturan yang dibuat sekolah sebelumnya.

“Masuk ke kelas seperti sebelum belajar di tenda. Pelajaran yang diikuti juga sama dengan sebelumnya,” tutur Davi.

Kepala SDN Gunggungan Lor, Adri mengatkan, semua anak didiknya dari kelas 1 sampai kelas 6, belajar diluar karena rang kelas yang selama ini digunakan untuk kegiatan KBM membayakan bagi keselamatan mereka.

“Ada dua ruang kelas yang atapnya sudah ambruk, jadi tidak memungkinkan jika digunakan sebagai tempat belajar. Ruang kelas lainnya, pondasinya patah dan tembok retak-retak, sebagai antisipasi maka KBM kami pindahkan keluar kelas,” Adri memaparkan.

Tenda darurat yang didirikan, jelad Adri, merupakan tenda pengungsian milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo.

“Kita laporkan kondisi kelas disini sehingga BPBD membuat tenda untuk kegiatan belajar,” jelasnya.

Adri menyebut, selain faktor alam berupa hujan deras yang disertai angin kencang pekan lalu, hal lain yang membuat sekolahnya ambruk dan tak layak huni adalah faktor usia.

“Sekolah dibangun pada tahun 1982, dan setelahnya hanya direhab ringan. Jadi wajar atap ambrol dan rawan roboh karena kayu-kayu sudah lapuk, terlebih terkena hujan angin,” tandasnya. (*)


Editor : Efendi Muhammad
Publisher : A. Zainullah FT


Artikel ini telah dibaca 26 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Halal Bihalal di Pasuruan, Gus Hilman Gelorakan Semangat Pengembangan Riset dan Literasi

6 April 2025 - 19:44 WIB

Probolinggo Jadi Proyek Percontohan Sekolah Rakyat, Mensos Gus Ipul Sambangi Bupati Gus Haris

4 April 2025 - 10:40 WIB

Bupati Lumajang Siapkan 6 Hektar Lahan untuk Lokasi Sekolah Rakyat

1 April 2025 - 18:23 WIB

Eks Kantor Pemkab Pasuruan Diusulkan Jadi Sekolah Rakyat

30 Maret 2025 - 15:43 WIB

Makan Bergizi Gratis Dimulai di Jember, Per Porsi Rp8 Ribu

18 Maret 2025 - 01:04 WIB

Pemkab Probolinggo Siapkan Sekolah Rakyat, Bupati Mulai Survei Sekolah dan Lahan

17 Maret 2025 - 12:05 WIB

Sebanyak 3.561 Pelajar Lumajang Putus Sekolah

11 Maret 2025 - 15:22 WIB

Pemkot Probolinggo Bakal Bangun SMPN 11, Siapkan Lahan di 3 Lokasi

6 Maret 2025 - 17:38 WIB

Sekolah Rakyat Dibuka Tahun Ini, Mensos Gus Ipul: Dimulai dari SMA

4 Maret 2025 - 18:28 WIB

Trending di Nasional