Menu

Mode Gelap
Wisata Kuliner Lebaran, Menyantap Bakso Kabut di Jember Gunung Bromo Disesaki Wisatawan, Polres Probolinggo Jamin Keamanan Hadapi Puncak Arus Balik, ini Antisipasi KAI Daop 9 Jember Genjot PAD, Pemkab Probolinggo Ambil Alih Pengelolaan PKL Stadion Gelora Merdeka Kraksaan Penumpang Terminal Bayuangga Tembus 70.467 Orang, Turun 10 Persen dari Tahun Lalu Kapolres Pasuruan Kota Terbitkan Edaran Jelang Praonan, Ini Aturannya

Kesehatan · 1 Mei 2020 11:31 WIB

Tempat Karantina Tanpa Kasur, Warga Protes


					Tempat Karantina Tanpa Kasur, Warga Protes Perbesar

TIRIS-PANTURA7.com, Proses karantina bagi pemudik tingkat desa di Kabupaten Probolinggo, sudah berjalan sejak Kamis (16/4/2020) lalu. Meski demikian, tak sedikit warga yang menilai bahwa fasilitas dan sarana prasarana yang disediakan Tim Satgas Covid-19 tidak memadai.

Salah satu tempat isolasi pemudik yang disorot berada di Desa Racek, Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo. Di desa ini, pemudik ditempatkan di gedung Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Racek.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Muhammad Uki (27) warga setempat. Ia mengatakan, ruang kelas SDN 1 Racek yang dijadikan tempat isolasi sangat memprihatinkan. Hal itu setidaknya terlihat dari tempat tidur yanh hanya menggunakan alas ala kadarnya.

“Tidak ada kasur, bahkan sampai saat ini tidak ada perbaikan untuk tempat karantina. Ada juga yang beralaskan karpet dengan selimut saja,” kecam Uki, Jum’at (1/5/2020).

Terlihat warga yang dikarantina tengah tidur beralaskan karpet. (Foto : istimewa).

Melihat sarana prasarana seperti itu, lanjut Uki, ia menilai alangkah lebih baik jika para pemudik melakukan karantina mandiri rumahnya masing-masing daripada terlantar di tempat karantina yang minim fasilitas memadai.

“Kalau hanya peralatan istirahatnya seperti itu, bisa-bisa warga yang dikarantina justru kian terganggu kesehatannya. Kan lebih baik istirahat di rumahnya saja, isolasi mandiri,” ketusnya.

Menanggapi hal itu, Koordinator Pengamanan dan Gakum Satgas Covid-19 Kabupaten Probolinggo, Ugas Irwanto mengatakan, membludaknya para pemudik, menjadi sebab utama karantina tingkat desa tidak bisa maksimal.

“Masalah sarana prasarana itu tidak semua desa sama. Jika melihat di tingkat kecamatan, Kecamatan Tiris merupakan salah satu daerah paling banyak pemudiknya, mencapai 500 orang lebih. Sedangkan anggaran dan lokasi terbatas,” jelas Ugas.

Menurut Ugas, pentingnya karantina bagi para pemudik adalah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Hal itulah yang menjadi dasar pemudik dikarantina, yang hasilnya lebuh efektif jika dibandingkan isolasi mandiri di rumah.

“Daripada mereka dirumah ada resiko tinggi terhadap keluarga dan tetangganya, lebih baik dikarantina di desa. Perugas juga bisa memaksimalkan pemeriksaan, menu makan dan vitamin,” tepis Ugas. (*)


Editor : Efendi Muhammad
Publisher : A. Zainullah FT


Artikel ini telah dibaca 20 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Pastikan Bansos Tepat Sasaran untuk Lansia dan Warga Rentan, Begini Langkah Dinsos Jember

5 April 2025 - 10:48 WIB

Selisih Sehari dengan Pemerintah, Jamaah Aboge di Leces Shalat Idul Fitri Hari Ini

1 April 2025 - 10:23 WIB

Warga Winongan Rayakan Lebaran di Tengah Sisa Genangan Banjir

31 Maret 2025 - 16:37 WIB

Kado Lebaran, 507 Warga Binaan Lapas Kelas II Probolinggo Dapat Remisi

31 Maret 2025 - 15:23 WIB

Bupati dan Wakil Bupati Lumajang Akan Gelar Open House, Warga Boleh Datang, Dilarang Bawa Oleh-oleh

30 Maret 2025 - 16:18 WIB

Jaga Tubuh Tetap Bugar, ini Tips Memilih Makanan saat Lebaran

30 Maret 2025 - 14:35 WIB

Waspada Bencana saat Libur Lebaran, BPBD Pasuruan Siaga Penuh 24 Jam

29 Maret 2025 - 18:18 WIB

Polres Pasuruan Sediakan Layanan Titip Kendaraan bagi Pemudik

29 Maret 2025 - 17:06 WIB

Program Berkah Nusantara PLN Nusantara Power UP Paiton Bagikan Seribu Paket Sembako dan Santunan Anak Yatim

29 Maret 2025 - 12:53 WIB

Trending di Sosial