Menu

Mode Gelap
Genjot PAD, Pemkab Probolinggo Ambil Alih Pengelolaan PKL Stadion Gelora Merdeka Kraksaan Penumpang Terminal Bayuangga Tembus 70.467 Orang, Turun 10 Persen dari Tahun Lalu Kapolres Pasuruan Kota Terbitkan Edaran Jelang Praonan, Ini Aturannya Sosok Kakek Calang, Pembabat Desa Kamalkuning Probolinggo (2) Pastikan Bansos Tepat Sasaran untuk Lansia dan Warga Rentan, Begini Langkah Dinsos Jember Meski Wisata Ranu Regulo Dibuka, Jalur Pendakian Gunung Semeru Tetap Ditutup

Ekonomi · 18 Feb 2021 11:22 WIB

Harga Cabai Rawit Meroket, Picu Inflasi


					Harga Cabai Rawit Meroket, Picu Inflasi Perbesar

MAYANGAN-PANTURA7.com, Harga cabai rawit yang terus meroket, menjadi salah satu penyumbang tertinggi dan pemicu angka inflasi di Kota Probolinggo. Terhitung selama Januari 2021, angka inflasi mencapai 0,28 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo Heri Sulistio melalui Kasi Distribusi M. Machsus menyampaikan, pada Januari 2021 di Kota Probolinggo mengalami inflasi sebesar 0,28 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 104,83 persen, sedangkan laju inflasi year on year sebesar 1,76 persen.

“Komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi bulan Januari 2021 adalah cabe rawit, tempe, tahu, tahu mentah, ikan benggol, melon, ketimun, cumi-cumi dan lain-lain,” katanya, Kamis (18/2/2021).

Ia menambahkan, inflasi pada Januari 2021 di delapan kota IHK di Jawa Timur semua kota mengalami inflasi dengan inflasi tertinggi terjadi di Kota Madiun sebesar 0,60 persen; diikuti oleh Kota Surabaya sebesar 0,37 persen; Kota Probolinggo sebesar 0,28 persen.

“Kemudian Kabupaten Jember sebesar 0,25 persen; Kabupaten Banyuwangi sebesar 0,18 persen; Kota Kediri sebesar 0,16 persen. Inflasi terendah terjadi di Kota Malang, yakni sebesar 0,06 persen. Sedangkan Jawa Timur mengalami inflasi 0,32 persen,” paparnya.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setiono Sayekti melalui Kepala Bagian Administrasi Perekonomian Heri Astuti mengakui, tingginya harga cabai merah mempengaruhi inflasi di Kota Probolinngo.

“Hal itu seiring dengan kenaikan harga cabai yang melonjak di pasar tradisional pada awal tahun ini,” ujar dia.

Ia menambahkan, seain cabai rawit yang menyumbang inflasi sebesar 0,1296 persen, komoditi lain juga turut andil memberikan sumbangan inflasi. “Seperti tempe sebesar 0,0367 persen dan tahu mentah sebesar 0,0291 persen,” paparnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan (TPHP) Irhamni Alfatih mengungkapkan salah satu kendalanya, adalah minimnya minat petani menanam kacang kedelai.

Hal itu, jelasnya, karena para pengguna khususnya pabrikan tahu dan tempe lebih memilih menggunakan bahan baku kedelai impor. Karena persediaannya mudah didapat, penanamannya cepat dan berkualitas dibanding jenis lokal.

“Kalau kedelai lokal, selain yang disebutkan diatas, kendala pemasaran dan biaya produksinya yang cukup tinggi. Sehingga hasil panennya dinilai kurang menguntungkan, dibanding tanaman padi atau jagung,” bebernya. (*)


Editor : Efendi Muhammad
Publisher : A. Zainullah FT


Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Kebutuhan Melonjak Menjelang Lebaran, Stok LPG di Jember Dipastikan Aman

30 Maret 2025 - 05:45 WIB

Jelang Lebaran Stok BBM dan LPG di Lumajang Dipertanyakan

26 Maret 2025 - 11:20 WIB

Berdayakan Pedagang Sayur Lokal, Pemkab Jember Luncurkan ‘Mlijo Cinta’

24 Maret 2025 - 21:37 WIB

Menjelang Idul Fitri, Harga Bahan Pokok di Lumajang Naik

23 Maret 2025 - 16:25 WIB

Tersaingi Pasar Online, Pedagang Pakaian di Plaza Lumajang Sepi Pembeli

18 Maret 2025 - 15:50 WIB

Sejarah Panjang Lumajang, dari Petani hingga Bentuk Koperasi Lawan Monopoli Perdagangan Belanda

16 Maret 2025 - 11:11 WIB

Awal Tahun, BPS Sebut Kabupaten Jember Alami Deflasi

12 Maret 2025 - 19:33 WIB

Pekan Kedua Ramadan, Harga Telur Ayam di Lumajang Tembus Rp35 Ribu/Kg

12 Maret 2025 - 16:12 WIB

Bulan Puasa, Pesanan Madu Klanceng Semakin Kenceng

10 Maret 2025 - 13:01 WIB

Trending di Ekonomi