Menu

Mode Gelap
Wisata Kuliner Lebaran, Menyantap Bakso Kabut di Jember Gunung Bromo Disesaki Wisatawan, Polres Probolinggo Jamin Keamanan Hadapi Puncak Arus Balik, ini Antisipasi KAI Daop 9 Jember Genjot PAD, Pemkab Probolinggo Ambil Alih Pengelolaan PKL Stadion Gelora Merdeka Kraksaan Penumpang Terminal Bayuangga Tembus 70.467 Orang, Turun 10 Persen dari Tahun Lalu Kapolres Pasuruan Kota Terbitkan Edaran Jelang Praonan, Ini Aturannya

Ekonomi · 20 Feb 2021 11:56 WIB

Harga Cabai Tinggi, Petani Terancam Rugi, Lho?


					Harga Cabai Tinggi, Petani Terancam Rugi, Lho? Perbesar

WONOASIH-PANTURA7.com, Sejumlah petani di Kelurahan Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo, ramai-ramai panen cabai. Petani panen dini untuk memanfaatkan harga cabai yang tengah meroket.

Salah seorang petani, Mudmiatun mengatakan, saat ini harga jual cabai rawit di pasaran memang tengah mahal, konon mencapai Rp 90 ribu per kilogram (Kg). Sementara ditingkat petani, harganya berkisar Rp 60 ribu/Kg.

“Kami menjualnya ke tengkulak dengan harga 50 ribu/Kg, paling tinggi Rp 60 ribu/Kg,” kata Mudmiatun, Sabtu (20/2/2021) saat ditemui di sawahnya.

Meski harga cabai rawit melambung, namun dikatakan Mudmiatun, kualitas dan kuantitas panen tak sebaik saat musim kemarau. “Karena hujan tiap hari, cabai banyak yang busuk,” ujar dia.

Oleh karenanya, dijelaskan Mudmiatun, ia dan sejumlah petani cabai lainnya memilih panen dini. Langkah itu ditempuh, selain mengejar harga cabai yang sedang tinggi, juga untuk menghindari kerugian akibat banyaknya cabai yang membusuk.

“Saat musim hujan seperti ini, sawah dengan luas setengah hektar hanya bisa panen sebanyak 20 kilogram sekali petik. Padahal jika musim kemarau, dengan luas lahan yang sama bisa menghasilkan satu kwintal,” imbuhnya.

Turunnya jumlah hasil panen, diakui Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Kota Probolinggo Fitriawati, sebagai penyebab melambungnya harga komoditas cabai di pasaran.

Menurut Fitriawati, hasil panen cabai petani tidak melimpah seperti saat musim kemarau karena banyak cabai rusak dan busuk. Ia juga memastikan, tidak ada unsur penimbunan dalam lonjakan harga cabai.

“Dari pantauan tim, naiknya harga cabai ini lebih dipengaruhi faktor kurangnya pasokan cabai dari petani karena cuaca buruk. Jadi bukan karena adanya penimbunan cabai oleh oknum-oknum tertentu,” bebernya. (*)


Editor : Efendi Muhammad
Publisher : A. Zainullah FT


Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Kebutuhan Melonjak Menjelang Lebaran, Stok LPG di Jember Dipastikan Aman

30 Maret 2025 - 05:45 WIB

Jelang Lebaran Stok BBM dan LPG di Lumajang Dipertanyakan

26 Maret 2025 - 11:20 WIB

Berdayakan Pedagang Sayur Lokal, Pemkab Jember Luncurkan ‘Mlijo Cinta’

24 Maret 2025 - 21:37 WIB

Menjelang Idul Fitri, Harga Bahan Pokok di Lumajang Naik

23 Maret 2025 - 16:25 WIB

Tersaingi Pasar Online, Pedagang Pakaian di Plaza Lumajang Sepi Pembeli

18 Maret 2025 - 15:50 WIB

Sejarah Panjang Lumajang, dari Petani hingga Bentuk Koperasi Lawan Monopoli Perdagangan Belanda

16 Maret 2025 - 11:11 WIB

Awal Tahun, BPS Sebut Kabupaten Jember Alami Deflasi

12 Maret 2025 - 19:33 WIB

Pekan Kedua Ramadan, Harga Telur Ayam di Lumajang Tembus Rp35 Ribu/Kg

12 Maret 2025 - 16:12 WIB

Bulan Puasa, Pesanan Madu Klanceng Semakin Kenceng

10 Maret 2025 - 13:01 WIB

Trending di Ekonomi