Menu

Mode Gelap
Genjot PAD, Pemkab Probolinggo Ambil Alih Pengelolaan PKL Stadion Gelora Merdeka Kraksaan Penumpang Terminal Bayuangga Tembus 70.467 Orang, Turun 10 Persen dari Tahun Lalu Kapolres Pasuruan Kota Terbitkan Edaran Jelang Praonan, Ini Aturannya Sosok Kakek Calang, Pembabat Desa Kamalkuning Probolinggo (2) Pastikan Bansos Tepat Sasaran untuk Lansia dan Warga Rentan, Begini Langkah Dinsos Jember Meski Wisata Ranu Regulo Dibuka, Jalur Pendakian Gunung Semeru Tetap Ditutup

Ekonomi · 15 Mar 2021 12:14 WIB

Harga Cabai Rawit di Pasaran Tembus Rp100 Ribu


					Harga Cabai Rawit di Pasaran Tembus Rp100 Ribu Perbesar

KRAKSAAN-PANTURA7.com, Sejak sepekan ini, kenaikan harga sejumlah komoditas dapur melambung signifikan, salah satunya cabai rawit. Diduga, meroketnya harga cabai rawit lantaran di musim penghujan ini banyak tanaman cabai yang rusak.

Pantauan PANTURA7.com, di Pasar Semampir Kraksaan, harga cabai rawit sudah Rp100 ribu per kilogram (Kg). Padahal sepekan sebelumnya harganya masih kisaran Rp80 ribu dan sebulan sebelumnya di kisaran Rp 50 ribu per kg.

“Kalau tidak salah, seingat saya sekitar satu sampai dua minggu lalu naiknya. Ya seperti biasanya, faktornya musim hujan atau cuaca ekstrim dan berimbas ke stoknya yang berkurang di pasaran,” kata Riski Nur Zakariya (29) salah satu pedagang di Pasar Semampir.

Menurut Kiki, sapaan akrabnya, tak hanya cabai rawit merah, harga cabai rawit hijau juga ikutan meroket. Saat ini, cabai rawit hijau sudah berada di kisaran Rp40 ribu dari harga sepekan lalu sekitar Rp30 ribu. “Sama juga, naik harganya,” ungkap dia.

Dikonfirmasi terpisah, Muhammad Ridho, petani cabai asal Desa Randutatah, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo mengatakan, saat ini mayoritas petani masih was-was untuk menanam cabai mengingat cuaca masih kurang bersahabat.

“Mungkin kalau sudah jarang hujan, petani bisa lebih fokus menanam cabai. Kalau sekarang masih mikir-mikir karena kami juga tidak mau rugi, jika nekat menanam cabai harus siap-siap rugi jadi lebih milih menanam padi saja,” ungkap Ridho.

Sepekan lalu, menurut dia, petani cabai di desa sekitar banyak geleng-geleng kepala. Pasalnya, cabai yang ditanam sudah mulai rusak sebelum panen. Kerusakan tersebut, kata dia, dikarenakan bakteri tanaman yang menyerang.

“Ya jadi wajar saja kalau harganya meroket sekarang, karena memang kekurangan stok saja. Sebelumnya petani cabai di sini banyak mengeluh karena tanaman cabai rawit rusak gara-gara diserang bakteri,” tutur pria berbadan subur ini. (*)


Editor : Ikhsan Mahmudi
Publisher : A. Zainullah FT


Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Kebutuhan Melonjak Menjelang Lebaran, Stok LPG di Jember Dipastikan Aman

30 Maret 2025 - 05:45 WIB

Jelang Lebaran Stok BBM dan LPG di Lumajang Dipertanyakan

26 Maret 2025 - 11:20 WIB

Berdayakan Pedagang Sayur Lokal, Pemkab Jember Luncurkan ‘Mlijo Cinta’

24 Maret 2025 - 21:37 WIB

Menjelang Idul Fitri, Harga Bahan Pokok di Lumajang Naik

23 Maret 2025 - 16:25 WIB

Tersaingi Pasar Online, Pedagang Pakaian di Plaza Lumajang Sepi Pembeli

18 Maret 2025 - 15:50 WIB

Sejarah Panjang Lumajang, dari Petani hingga Bentuk Koperasi Lawan Monopoli Perdagangan Belanda

16 Maret 2025 - 11:11 WIB

Awal Tahun, BPS Sebut Kabupaten Jember Alami Deflasi

12 Maret 2025 - 19:33 WIB

Pekan Kedua Ramadan, Harga Telur Ayam di Lumajang Tembus Rp35 Ribu/Kg

12 Maret 2025 - 16:12 WIB

Bulan Puasa, Pesanan Madu Klanceng Semakin Kenceng

10 Maret 2025 - 13:01 WIB

Trending di Ekonomi