Menu

Mode Gelap
Wisata Kuliner Lebaran, Menyantap Bakso Kabut di Jember Gunung Bromo Disesaki Wisatawan, Polres Probolinggo Jamin Keamanan Hadapi Puncak Arus Balik, ini Antisipasi KAI Daop 9 Jember Genjot PAD, Pemkab Probolinggo Ambil Alih Pengelolaan PKL Stadion Gelora Merdeka Kraksaan Penumpang Terminal Bayuangga Tembus 70.467 Orang, Turun 10 Persen dari Tahun Lalu Kapolres Pasuruan Kota Terbitkan Edaran Jelang Praonan, Ini Aturannya

Ekonomi · 19 Agu 2021 19:48 WIB

Harga Cabai Rawit Terjun Bebas, Kini Rp15 Ribu/Kg


					Harga Cabai Rawit Terjun Bebas, Kini Rp15 Ribu/Kg Perbesar

MAYANGAN,- Harga cabai rawit merah di sejumlah pasar tradisional di Kota Probolinggo, kini tak lagi pedas. Turunnya harga komoditas dapur ini diduga terjadi seiring masuknya cabai dari Pulau Madura.

Salah seorang pedagang cabai di Pasar Baru Kota Probolinggo, Su’eb mengatakan, harga cabai rawit saat ini hanya Rp16 ribu per kilogram (Kg). Padahal pekan lalu, harga bahan utama sambal ini masih Rp25 ribu/Kg.

“Harga cabai rawit turun sejak kemarin, awalnya Rp18 ribu dan hari ini turun lagi jadi Rp16 ribu per kilogram. Menurut distributor, turunnya harga cabai ini karena petani di Madura sudah mulai panen, sehingga pasokan ke pedagang banyak,” ujar Su’eb, Kamis (19/8/21).

Dijelaskan pedagang asal Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran ini, dengan harga Rp16 ribu/Kg maka harga cabai rawit kini setara harga cabai rawit hijau.

Tidak hanya cabai rawit, imbuh Su’eb, komoditas lain yang harga jualnya terjun bebas adalah bawang merah. Saat ini, harga bawang merah hanya Rp24 ribu/Kg, padahal sebelumnya harganya sebesar Rp30/Kg.

“Karena pasokan cabai rawit dari petani dan distributor banyak (sehingga harganya murah). Diperkirakan harga cabai rawit ini akan turun kembali,” pungkas Su’eb.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perdagangan, dan Perindustrian (DKUPP) Kota Probolinggo, Fitriawati menjelaskan, harga bahan pokok memang dipengaruhi oleh ketersediaan bahan. Jika stoknya banyak otomatis harga turun.

Sebaliknya, jelas Fitriawati, kalau barangnya sedikit maka harga naik karena konsumen yang membutuhkan lebih banyak. Hipotesa itu juga berlaku bagi cabai yang saat ini harganya turun karena petani sedang panen raya raya.

“Seringkali petani tanamnya bersamaan sehingg panennya juga bersamaan, ini yang menyebabkan stok banyak sehingga harga turun,” ujar Fitriawati. (*) 

 

 

Editor: Efendi Muhammad

Publisher: A. Zainullah FT

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Kebutuhan Melonjak Menjelang Lebaran, Stok LPG di Jember Dipastikan Aman

30 Maret 2025 - 05:45 WIB

Jelang Lebaran Stok BBM dan LPG di Lumajang Dipertanyakan

26 Maret 2025 - 11:20 WIB

Berdayakan Pedagang Sayur Lokal, Pemkab Jember Luncurkan ‘Mlijo Cinta’

24 Maret 2025 - 21:37 WIB

Menjelang Idul Fitri, Harga Bahan Pokok di Lumajang Naik

23 Maret 2025 - 16:25 WIB

Tersaingi Pasar Online, Pedagang Pakaian di Plaza Lumajang Sepi Pembeli

18 Maret 2025 - 15:50 WIB

Sejarah Panjang Lumajang, dari Petani hingga Bentuk Koperasi Lawan Monopoli Perdagangan Belanda

16 Maret 2025 - 11:11 WIB

Awal Tahun, BPS Sebut Kabupaten Jember Alami Deflasi

12 Maret 2025 - 19:33 WIB

Pekan Kedua Ramadan, Harga Telur Ayam di Lumajang Tembus Rp35 Ribu/Kg

12 Maret 2025 - 16:12 WIB

Bulan Puasa, Pesanan Madu Klanceng Semakin Kenceng

10 Maret 2025 - 13:01 WIB

Trending di Ekonomi