Menu

Mode Gelap
Wisata Kuliner Lebaran, Menyantap Bakso Kabut di Jember Gunung Bromo Disesaki Wisatawan, Polres Probolinggo Jamin Keamanan Hadapi Puncak Arus Balik, ini Antisipasi KAI Daop 9 Jember Genjot PAD, Pemkab Probolinggo Ambil Alih Pengelolaan PKL Stadion Gelora Merdeka Kraksaan Penumpang Terminal Bayuangga Tembus 70.467 Orang, Turun 10 Persen dari Tahun Lalu Kapolres Pasuruan Kota Terbitkan Edaran Jelang Praonan, Ini Aturannya

Berita Pantura · 6 Feb 2022 16:29 WIB

Nestapa Perajin Batu Bata, Produksi Merosot, Lahan Kosong Menyempit


					Nestapa Perajin Batu Bata, Produksi Merosot, Lahan Kosong Menyempit Perbesar

Krejengan,- Jika mayoritas petani di Kabupaten Probolinggo, sumringah dengan datangnya musim hujan tahun ini, tidak demikian halnya dengan perajin batu bata.

Perajin justru mengeluh lantaran produksi batu bata merosot selama musim hujan. Alhasil, pendapatan perajin pun ikut anjlok.

Seperti yang disampaikan Muhid, salah satu perajin batu bata di Desa Sumber Katimoho, Kecamatan Krejengan. Menurutnya, selama musim hujan seperti saat ini, pembuatan batu bata memakan waktu lebih panjang.

Dijelaskannya, saat cuaca bagus, proses cetak dan pengeringan batu bata cukup 2 hari saja. Namun saat, pengeringan bisa berlangsung hingga sepekan.

“Proses pencetakan lalau cuaca normal, dua hari bisa mencapai hingga 1000 biji batu bata”, ungkapnya.

Jika cuaca tidak bersahabat, lanjutnya, maka tidak hanya pencetakan, pengeringan, dan pembakaran pun bakal memakan waktu lebih lama. Alhasil, warga yang membeli saat musim hujan, harus menunggu lebih lama.

“Harga batu bata kisaran Rp 350 ribu per 1000 biji. Kalau musim hujan seperti ini, harganya naik menjadi Rp 370 ribu per 1000 biji. Saat ini, kalau hujan hingga larut malam,” ucap lelaki 43 tahun itu.

Tak hanya soal produktivitas yang anjlok saat musim hujan, kendala lain yang juga dihadapi perajin adalah mulai sempitnya lahan kosong.

Sebab saat musim hujan, lahan yang biasanya kurang produktif, ditanami oleh pemilik lahan. Belum menjamurnya bangunan baru di lahan kosong.

“Kalau dulu kan masih tidak terlalu banyak bangunan untuk daerah pedesaan, banyak lahan kosong. Kalau sekarang ya mulai susah, lahan sudah berkurang,” timpal Taufik, rekan kerja Muhid. (*)

 

Editor: Efendi Muhammad

Publisher: Albafillah

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Kedapatan Mencuri di Bus, Pria Asal Jember Diamankan Penumpang Bus di Pasuruan

23 Maret 2025 - 22:10 WIB

Tanaman Ganja Dilarang tapi Tumbuh Subur di Lumajang

23 Maret 2025 - 17:05 WIB

Penemuan Ribuan Koin Kuno di Pasuruan Segera Diteliti

28 Januari 2025 - 16:44 WIB

Target PAD Lumajang Melalui Pajak Sebesar Rp170 Miliar

3 Januari 2025 - 11:03 WIB

Pendapatan PBB-P2 Belum Maksimal, BPRD Lumajang Akan Grebeg Desa yang Capaiannya Rendah

2 Januari 2025 - 16:13 WIB

Antisipasi Lonjakan Penumpang saat Nataru, KAI Daop 9 Jember Operasikan Satu KA Tambahan

25 Desember 2024 - 13:27 WIB

Balos Tampilkan Karakteristik Batik Khas Lumajang

22 Desember 2024 - 15:50 WIB

Diguyur Hujan Deras, Gelora Merdeka Kraksaan Banjir

16 Desember 2024 - 18:19 WIB

Banjir Tahunan Resahkan Warga Pasuruan, Dewan Desak Pemprov Jatim Segera Normalisasi Sungai

16 Desember 2024 - 13:20 WIB

Trending di Berita Pantura