Menu

Mode Gelap
Pastikan Bansos Tepat Sasaran untuk Lansia dan Warga Rentan, Begini Langkah Dinsos Jember Meski Wisata Ranu Regulo Dibuka, Jalur Pendakian Gunung Semeru Tetap Ditutup Kapolres Sebut Arus Balik di Probolinggo Ramai Lancar, Angka Kecelakaan Minim Mitigasi Bencana, BPBD Jember Siapkan Tiga Destana Baru Sosok Kakek Calang, Pembabat Desa Kamalkuning Probolinggo (1) Janda Muda di Probolinggo Ditemukan Bersimbah Darah Ditengah Jalan, Diduga Korban Pembunuhan

Ekonomi · 15 Agu 2022 17:55 WIB

Wabah PMK Melandai, Penjualan Sapi di Lumajang Tetap Sepi


					Wabah PMK Melandai, Penjualan Sapi di Lumajang Tetap Sepi Perbesar

Lumajang,- Sejak awal bulan Juli lalu, pasar hewan di Kelurahan Jogoturunan, Kecamatan/Kabupaten Lumajang sudah dibuka. Aktivitas para pedagang sapipun mulai berdatangan memadati pasar.

Rofi’i salah satu pedagang asal Desa Kerasak, Kecamatan Kedungjajang, Kabupaten Lumajang mengatakan, sejak awal dibukanya pasar hewan, ia sudah menjual sedikitnya 6 ekor sapi.

“Kalau pembeli dari petani masih sepi, biasanya dari luar wilayah Lumajang yang banyak membeli,” kata Rofi’i, Senin (15/8/2022).

Kondisi tersebut, menurut Rofi’i, membuatnya rugi. Sebab biaya angkut sapi dan biaya perawatan tidak sebanding dengan hasil yang didapat, meski pasar sudah tidak ditutup oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang.

Dikatakan Rofi’i, ia sudah pernah membeli sapi melalui online. Namun, transaksi lewat online justru membuatnya tambah merugi lantaran ia tidak bisa memprediksi kondisi sapi secara leluasa.

“Kalau jual beli lewat online, hanya di videonya saja terlihat besar. Setelah didatang ternyata tidak sesuai, bahkan saya selalu rugi kalau beli lewat video,” terangnya.

Sementara itu, Kepala Pasar Hewan, Darsun menyampaikan, saat ini penjualan sapi memang mengalami penurunan drastis dibandingkan sebelum adanya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

“Saat ini, mengalami penurunan hingga 60 persen. Kalau sebelum PMK penjualan sapi bisa mencapai 700 ekor, kalau sekarang hanya 250-an tiap pasaran,” jelasnya.

Menurut Darsun, selain wabah PMK yang masih menghantui, tidak adanya pembeli dari luar kota membuat aktivitas jual beli sapi kian sepi. Padahal, sapi-sapi dari Lumajang biasanya menjadi rujukan pedagang luar, seperti Surabaya dan Gresik.

“Pembeli dari luar kota tidak ada, biasanya kebanyakan dari Surabaya, karena tidak ada jadi aktivitasnya juga sepi,” imbuhnya memungkasi. (*)

Editor: Efendi Muhammad
Publisher: Zainul Hasan R

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Jaga Tubuh Tetap Bugar, ini Tips Memilih Makanan saat Lebaran

30 Maret 2025 - 14:35 WIB

Kebutuhan Melonjak Menjelang Lebaran, Stok LPG di Jember Dipastikan Aman

30 Maret 2025 - 05:45 WIB

Jelang Lebaran Stok BBM dan LPG di Lumajang Dipertanyakan

26 Maret 2025 - 11:20 WIB

Berdayakan Pedagang Sayur Lokal, Pemkab Jember Luncurkan ‘Mlijo Cinta’

24 Maret 2025 - 21:37 WIB

Menjelang Idul Fitri, Harga Bahan Pokok di Lumajang Naik

23 Maret 2025 - 16:25 WIB

Tersaingi Pasar Online, Pedagang Pakaian di Plaza Lumajang Sepi Pembeli

18 Maret 2025 - 15:50 WIB

Sejarah Panjang Lumajang, dari Petani hingga Bentuk Koperasi Lawan Monopoli Perdagangan Belanda

16 Maret 2025 - 11:11 WIB

Tips Sehat Selama Ramadan, ini Cara Menjaga Pola Makan saat Buka Puasa

15 Maret 2025 - 07:23 WIB

Awal Tahun, BPS Sebut Kabupaten Jember Alami Deflasi

12 Maret 2025 - 19:33 WIB

Trending di Ekonomi