Menu

Mode Gelap
Sosok Kakek Calang, Pembabat Desa Kamalkuning Probolinggo (2) Pastikan Bansos Tepat Sasaran untuk Lansia dan Warga Rentan, Begini Langkah Dinsos Jember Meski Wisata Ranu Regulo Dibuka, Jalur Pendakian Gunung Semeru Tetap Ditutup Kapolres Sebut Arus Balik di Probolinggo Ramai Lancar, Angka Kecelakaan Minim Mitigasi Bencana, BPBD Jember Siapkan Tiga Destana Baru Sosok Kakek Calang, Pembabat Desa Kamalkuning Probolinggo (1)

Sosial · 30 Des 2022 18:41 WIB

Mengenal Imam, Pria Heroik Berpeci Merah di Lereng Gunung Semeru 


					Mengenal Imam, Pria Heroik Berpeci Merah di Lereng Gunung Semeru  Perbesar

Lumajang,- Sosok Pak Bredt tiba-tiba terkenal setelah Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, memuntahkan Awan Panas Guguran (APG), 4 Desember 2022 lalu. Video Pak Bredt dengan peci merah saat melarikan diri dari kejaran APG yang bonceng kendaraan bermotor menyita perhatian publik.

Sambil melihat APG di belakangnya yang terus mengejar, pria paruh baya itu berteriak “engak ketang engkok, engak ketang engkok kanak” dalam bahasa Madura. Artinya “Saya sudah seperti kera, seperti kera,” merujuk wajahnya yang penuh abu vulkanis semeru.

Kala itu, banyak warga yang kebingungan untuk menyelamatkan diri. Bayang-bayang ganasnya amukan Gunung Semeru saat erupsi, 4 Desember 2021, atau setahun sebelumnya, masih membekas.

Namun, untuk memotivasi warga dan meredakan kepanikan, Pak Bredt yang bernama asli Imam, menampakkan wajah seolah-olah kondisi aman. Ia pun berhasil melobi sejumlah warga agar bersedia mengungsi ke tempat yang lebih aman.

“Siapa sih yang tidak takut dengan keadaan seperti itu, tapi kan ini cara saya menghilangkan panik juga supaya orang lain yang melihat saya itu ikut tenang. Tidak mungkin kita menolong orang lain sedangkan kita sendiri kelihatan takut,” kata Imam saat ditemui di jalur Curah Kobokan, Jumat (30/12/2022).

Pria asal Surabaya itu setiap hari bekerja sebagai penjaga alat berat milik salah satu perusahaan di lokasi tambang pasir di Dusun Curah Kobokan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.

Sudah 6 tahun 6 bulan, ia mempertaruhkan hidupnya dengan bekerja sebagai penjaga alat berat di aliran lahar Gunung Semeru.

Selama 1 tahun 6 bulan pertama, ia ditempatkan di Desa Jugosari, dan 5 tahun sisanya di Desa Supiturang dengan profesi menjaga alat berat pengangkut pasir milik salah satu penambang.

Usia yang sudah senja, tidak membuat Imam patah semangat untuk terus bekerja dan memberikan informasi apabila kondisi Gunung Semeru membahayakan.

Lokasi kerjanya lima tahun terakhir ini lebih dekat dengan puncak Gunung Semeru. Jaraknya kurang dari 10 kilometer.

“Saya asli Surabaya, kerja di Lumajang sudah hampir tujuh tahun, 24 jam saya di area laharan karena saya bekerja sebagai penjaga ekskavator,” jelas Imam.

Tempat kerja yang sangat dekat, bahkan menghadap langsung ke Kawah Jonggring Saloko Semeru, membuat Imam bisa melihat langsung detik demi detik meningkatnya aktivitas Gunung Semeru.

Mulai dari luncuran lava pijar seperti lelehan besi berwarna merah padam yang terus meleleh hingga kaki gunung dilihatnya dengan mata telanjang sekitar pukul 02.00 WIB pada 4 Desember 2022.

Tidak lama berselang, letusan-letusan asap atau Awan Panas Guguran (APG) mulai muncul dan perlahan menutupi puncak gunung yang terus melelehkan lava pijar.

Saat APG sudah mencapai jarak luncur 7 kilometer dengan asap yang membumbung tinggi, beberapa warga yang tinggal di lereng Gunung Semeru mulai beranjak untuk mengungsi.

Namun, hal itu tidak berlaku bagi Imam. Ia tidak beranjak sedikit pun dari tempatnya berdiri sambil memantau situasi gunung dan menginformasikan kepada warga yang lain.

Berbekal selimut yang sudah dibasahi sebelumnya, Imam menyaksikan turunnya APG secara seksama. Ia berkeyakinan, aliran lava yang turun dari gunung tidak masuk ke jalur Sungai Wedok, tempatnya berdiri saat itu.

Melihat situasi semakin tidak kondusif dan arah angin yang berbelok arah, Imam mulai beranjak pergi. Bukan untuk melarikan diri, ia hanya bergeser 200 meter dari tempat awal namun terus menyaksikan lingkungan sekitar untuk memastikan tidak ada lagi orang yang tertinggal.

“Saya bukan sok sakti atau menantang alam, tapi sudah saya perhitungkan. Awalnya kan angin tidak mengarah ke saya dan saya lihat lava tidak meluber ke Kali Wedok, jadi saya di sana aman. Begitu angin mulai berubah, saya geser agak naik paling jarak 200 meter karena walaupun memakai selimut basah kalau terkena wedus gembel ya bahaya juga,” ceritanya.

Keberanian yang dimiliki Imam ini tidak datang begitu saja. Ia mengaku mendapatkan keberanian itu dari pengalaman saat menjadi saksi hidup detik-detik puluhan nyawa manusia tertimbun material panas muntahan Semeru, tahun 2021.

“Saya jadi korban erupsi Semeru ini tidak hanya sekali ini, sudah tiga kali, tahun lalu saya lihat langsung dengan mata saya 19 orang tertimbun. Waktu itu saya yang cuma menghirup wedus gembel rasanya kayak dicekik, di situ saya belajar dan saya sampaikan ke warga yang lain untuk keselamatan bersama,” tutur Pak Bredt.

 

Kehilangan Sahabat Karib

Dibalik sosoknya yang pemberani dan penuh keceriaan, Imam banyak menyimpan luka mendalam lantaran sahabat karibnya sesama pekerja, meninggal dunia saat Gunung Semeru erupsi, tahun 2020.

Saat itu, sahabatnya yang bernama Fathur Rohman sedang mengoperasikan alat berat. Nahas, belum sempat melarikan diri, Warga Paiton Probolinggo itu tersapu material erupsi Gunung Semeru.

Fathur yang pada saat itu tertimbun material lahar panas bersama dengan puluhan alat berat milik tambang yang terparkir di sungai.

Saat kejadian, Imam yang biasanya selalu bersama dengan Fathur, tiba-tiba mendapatkan tugas dari pemilik tambang untuk pergi ke Lumajang Kota membeli onderdil alat berat. Sedangkan, Fathur tetap berjaga di lokasi tambang dengan dua orang lainnya.

Siapa sangka, perginya Imam ke kota menjadi perpisahannya dengan Fathur. Sekitar pukul 01.30 WIB dinihari, Gunung Semeru mengalami erupsi yang tidak pernah disangka sebelumnya.

Setelah mendengar kabar erupsi Gunung Semeru, Imam langsung beranjak dari kota menuju ke lokasi pertambangan untuk melihat situasi. Namun, sahabatnya telah tertimbun aliran lahar Gunung Semeru.

Imam dan pekerja yang lain, berusaha mencari jasad Imam diantara timbunan material Gunung Semeru. Galian demi galian disepanjang aliran lahar ia lakukan.

Namun, jenazah Fathur tetap tidak ditemukan hingga hari ini. Hal ini juga yang membuatnya termotivasi, berani menantang maut dengan menjaga alat berat di kaki Gunung Semeru.

“Saya berani jaga di kaki gunung karena berharap bisa menemukan jasad sahabat saya Fathur walaupun itu hanya secarik kain supaya bisa saya bawa ke Probolinggo, saya makamkan di rumahnya. Sampai hari ini saya masih ingat jaket biru yang dipakai almarhum dengan selimut melingkar di lehernya sebelum meninggal itu,” kenang Imam.

 

Sampaikan Informasi lewat Konten

Aksi nekat Imam menantang maut demi menyelamatkan banyak jiwa di lereng Gunung Semeru dengan update perkembangan aktivitas gunung melalui media sosial Tiktok miliknya, rupanya pernah dilarang oleh keluarganya.

Tidak jarang, istri dan kedua anaknya yang masih menempuh pendidikan memintanya untuk pulang ke kota asal, Surabaya, dan bekerja di sana.

Namun, Imam yang merasa punya hutang budi ke kawasan yang dijadikannya sebagai tempat menghidupi istri dan anaknya selama hampir tujuh tahun terakhir, memilih tetap bertahan di lereng Semeru. Syukur-syukur bisa memberikan manfaat bagi warga sekitarnya.

Imam meyakinkan keluarganya bahwa apa yang dilakukan di sekitar aliran lahar Semeru sudah diperhitungkan dengan matang sebelumnya.

“Ya dilarang, istri sama anak saya itu bilang sudah lah jangan seperti itu lagi, tapi mereka tahu jiwa saya, saya sudah bertekad akan memberi manfaat bagi Semeru dan warga di sekitarnya, karena saya hidup selama ini ya dari sini,” tutur Imam.

Keberanian yang dibalut dengan keceriaan menjadikan Imam sebagai sosok yang disukai oleh banyak orang. Kemampuannya menggambarkan aktivitas vulkanik dengan gaya guyonan dalam bahasa Madura khas Lumajang menjadi ciri khas tersendiri.

Setiap kontennya diawali dengan “salam bredt” yang kemudian menjadikannya dijuluki Pak Bredt oleh sebagian orang. Salam itu dibarengi dengan menunjukkan tangan terkepal seperti lambang metal namun hanya dua jari yakni telunjuk dan kelingking.

Bagi Imam, hal itu mengandung makna bahwa hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia harus berimbang.

“Dua jari itu saya maknai hablum minallah dan hablum minan nash, hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia ini harus seimbang,” ungkapnya.

Dalam konten itu, ia selalu memberikan informasi akurat dan terkini dari Gunung Semeru. Video lalu diakhiri dengan celotehan pergerakan lahar hingga menghancurkan kokohnya Jembatan Gladak Perak.

“Bluus, klesek klesek klesek, elang Gladak Perak,” ucapnya dalam Bahasa Madura. “Kalau Gunung Semeru itu kalau sudah blus (meletus) itu suaranya lava, itu kayak gitu klesek-klesek tapi tahu-tahu hilang (ambruk) Gladak Perak,” pungkasnya. (*)

 

Editor : Efendi Muhammad

Publisher: Zainul Hasan R

Artikel ini telah dibaca 44 kali

badge-check

Reporter

Baca Lainnya

Pastikan Bansos Tepat Sasaran untuk Lansia dan Warga Rentan, Begini Langkah Dinsos Jember

5 April 2025 - 10:48 WIB

Selisih Sehari dengan Pemerintah, Jamaah Aboge di Leces Shalat Idul Fitri Hari Ini

1 April 2025 - 10:23 WIB

Warga Winongan Rayakan Lebaran di Tengah Sisa Genangan Banjir

31 Maret 2025 - 16:37 WIB

Kado Lebaran, 507 Warga Binaan Lapas Kelas II Probolinggo Dapat Remisi

31 Maret 2025 - 15:23 WIB

Bupati dan Wakil Bupati Lumajang Akan Gelar Open House, Warga Boleh Datang, Dilarang Bawa Oleh-oleh

30 Maret 2025 - 16:18 WIB

Waspada Bencana saat Libur Lebaran, BPBD Pasuruan Siaga Penuh 24 Jam

29 Maret 2025 - 18:18 WIB

Polres Pasuruan Sediakan Layanan Titip Kendaraan bagi Pemudik

29 Maret 2025 - 17:06 WIB

Program Berkah Nusantara PLN Nusantara Power UP Paiton Bagikan Seribu Paket Sembako dan Santunan Anak Yatim

29 Maret 2025 - 12:53 WIB

Waspada Microsleep saat Mudik, Ini Tips Pencegahannya

29 Maret 2025 - 11:12 WIB

Trending di Sosial