Lumajang,- Hingga akhir September 2023, beras hasil produksi petani di Kabupaten Lumajang mencapai 12 ribu ton. Jumlah ini diatas kebutuhan masyarakat kota pisang yang mengkonsumsi maksimal 10 ribu ton beras.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Lumajang, Hairil Diani mengatakan, beras di wilayahnya memang surplus lantaran daya konsumsi masyarakat hanya sekitar 10 ribu ton.
“Produksi padi bulan September mencapai 12 ribu ton, sedangkan kebutuhan kita tidak sampai 10 ribu ton. Beras Lumajang banyak didistribusi ke daerah-daerah lain di Jawa Timur,” kata Hairil, Jumat (13/10/23).
Sayangnya, meski surplus beras namun harga komoditas itu di pasaran masih tinggi. Beras kualitas medium harga jualnya mencapai Rp13 ribu sampai Rp15 ribu per kilogram.
Padahal dalam operasi pasar yang dilakukan beberapa waktu yang lalu, harga beras medium di pasaran hanya Rp 10.200 per kilogram (kg).
“Gejolak harga beras di pasaran itu panjang sekali mengurainya, harus ditelisik dari hulu ke hilir. Padi sebenarnya sudah mulai panen nah ini semoga dapat menekan harga,” bebernya.
Di sisi lain, Hairil mengimbau kepada para petani untuk memulai menanam komoditas tanam yang lebih heterogen seperti jagung dan umbi-umbian.
“Kami lakukan percepatan tanam dengan komoditas yang tahan kekeringan, seperti jagung dan umbi-umbian,” pungkas dia.
Sekedar informasi, pada 2022 Jawa Timur menjadi produsen beras terbesar, dengan capaian produksi 5,5 juta ton atau 17,44% dari total produksi beras nasional. (*)
Editor: Mohamad S
Publisher: Zainul Hasan R