Lumajang,- Pura Mandhara Giri Semeru Agung yang terletak di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, dikenal sebagai simbol kerukunan antar umat beragama.
Sebab, pura yang sakral nan eksotik itu, tidak hanya digunakan umat Hindu untuk beribadah, melainkan juga kerap digunakan umat agama lain untuk berkegiatan.
Selain itu, letaknya yang berada ditengah pemukiman umat Hindu, muslim dan sejumlah penganut agama kristen, membuat aroma pluralisme di Pura Mandhara Giri Semeru Agung kian kental.
Namun siapa sangka dibalik kemegahannya, pengurus pura justru tertatih-tatih dalam memenuhi biaya perawatan tempat ibadah yang dibangun pada tahun 1988 itu.
Ketua Pengurus Harian Pura Mandhara Giri Semeru Agung, Wira Dharma menyampaikan, selama ini anggaran untuk perawatan Pura Mandara Giri Semeru Agung hanya mengandakan dari internal saja.
“Ya, selama ini kita memang dari intern. Hanya kemarin saya mengajukan lampu solar sel dan pengecatan jalan kepada Bu Pj. Bupati dan langsung direspon,” jelas Wira, Selasa (25/6/24).
Wira menyebut, tidak ada anggaran dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lumajang untuk biaya operasional dan pemeliharaan Pura.
“Dari pemkab (Lumajang) belum ada mas, untuk perawatan dan lain-lain kita mengandalkan sumbangan umat intern saja,” ungkapnya.
Karena hanya mengandalkan sumbangan yang didapat dari orang-orang yang datang ke pura, maka pihaknya harus benar-benar bisa mengelola anggaran pura se-efektif mungkin.
“Kita harus benar benar jeli untuk mengeluarkan anggaran, biar bisa mencukupi untuk bayar listrik, air pegawai dan potong rumput,” beber Wira.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lumajang, Yuli Harisma Wati mengatakan, Pura Mandhara Giri Semeru Agung yang terletak di lereng Gunung Semeru adalah tempat ibadah.
Dengan demikian, imbuh Yuli, maka seluruh aktivitas, kebersihan, termasuk fasilitas dan kenyamanan di Pura Mandhara Giri Semeru Agung menjadi tanggung jawab pengelola.
“Anggarannya tidak ada. Tapi, kalau pertanyaannya, kenapa Pura tidak dibersihkan, ya kita tidak bisa. Kalau pura tanggungannya pengelola pura, kalau menganggarkan disitu tidak bisa,” beber dia. (*)
Editor: Mohammad S
Publisher: Moch. Rohim