Probolinggo,- Menyambut Hari Ibu yang jatuh tiap tanggal 22 Desember, Pondok Pesantren (Ponpes) Azidan Barokatu Zainil Hasan, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, gelar lomba kreasi nasi tumpeng, Senin (16/12/24).
Lomba ini diikuti oleh wali santri dan dibagi menjadi beberapa kelompok. Mulai tingkat Raudhatul Athfa (RA) atau setingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga tingkatan Sekolah Menengah Atas (SMA).
Dalam lomba ini, belasan peserta yang terdiri dari wali santri, dituntut agar bisa mengkreasikan nasi tumpeng sebaik dan secantik mungkin.
Saat lomba di mulai, bahan-bahan yang dibawa dari rumah kemudian diolah dan dikreasikan hingga menjadi karya kreatif berupa tumpeng.
“Jadi bahan yang sudah jadi dibawa dari rumah, setelah lomba dimulai bahan tersebut langsung dikreasikan di dalam wadah yang juga disiapkan oleh peserta,” ujar pengasuh Ponpes Azidan Barokatu Zainil Hasan, Nyai Diah Retno.
Sistem penilaian, menurut Retno, tumpeng yang paling baik penyajiannya dengan rasa yang ‘nendang’ akan keluar sebagai pemenang. Selain itu, isi tumpeng dan kandungan gizi, juga masuk dalam penilaian.
Mayoritas nasi tumpeng yang dikreasikan menggunakan nasi kuning. Namun beberapa peserta ada menggunakan yang bahan lain untuk membuat tumpeng yang cantik dan unik.
Lomba sengaja dilaksanakan sebelum Hari Ibu, karena saat Hari Ibu tanggal 22 Desember 2024 nanti, sudah tidak ada aktifitas di pondok pesantren seiring sudah memasuki hari libur.
“Selain melatih kreasi dalam menata tumpeng, lomba ini juga bertujuan menjali silahturahmi dan kekompakan antara wali santri yang peserta,” cetus Retno.
Salah satu wali santri, Wulan menyebut bahwa kreasi tumpeng yang dibuatnya memiliki tema kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Selain lauk pauk, juga terdapat sayuran yang dibentuk motif bunga, seperti yang disukai anak-anak.
“Selain kreasi, tumpeng yang kita buat juga diperhitungkan nilai gizinya. Salah satunya pemilihan lauk ayam yang penuh protein, serta terdapat sayur-mayur didalamnya,” ujarnya.
Selain lomba kreasi nasi tumpeng, dalam acara tersebut juga digelar tradisi basuh kaki masing-masing orang tua yang dilakukan oleh santri.
Membasuh kaki orang tua sebagai simbol bahwa surga berada di telapak kaki ibu sehingga kaki ibu harus senantiasa bersih. Selain itu, juga menyiratkan bentuk pengabdian anak terhadap ibunya. (*)
Editor: Mohammad S
Publisher : Keyra