Probolinggo,– Carut-marut distribusi pupuk subsidi di Kabupaten Probolinggo kian terkuak. Panitia Kerja (Panja) Pupuk DPRD Kabupaten Probolinggo terus bergerak untuk menuntaskan permasalahan yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Ketua Panja Pupuk DPRD Kabupaten Probolinggo, Muchlis menegaskan, pihaknya terus melakukan sidak ke berbagai kios dan distributor.
Salah satu temuannya adalah penjualan pupuk di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Selain itu, distribusi yang tidak transparan membuat harga pupuk semakin melambung.
“Kami terus melakukan pendalaman terhadap permasalahan ini. Semakin ke sini, kami menemukan bahwa carut-marut pupuk ini sudah mengakar akibat sistem yang salah dan telah berlangsung bertahun-tahun,” kata Muchlis, Kamis (27/2/25).
Panja menemukan hampir di seluruh kios dan distributor terjadi ketidaksesuaian dengan regulasi yang seharusnya dijalankan. Mulai dari Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK), sampai penjualan pupuk diatas HET.
“Yang jelas, pupuk ini memang membuat petani menjerit. Mereka kesulitan mendapatkan pupuk dengan harga yang seharusnya, sementara di lapangan terjadi praktik-praktik yang merugikan mereka,” lanjutnya.
Dari berbagai temuan di lapangan, Panja DPRD mengarah pada rekomendasi besar kepada Pupuk Indonesia (PI).
Rekomendasinya adalah untuk merevolusi distribusi pupuk subsidi di Kabupaten Probolinggo.
“Dari sejumlah perjalanan Panja ini, ada kesimpulan kuat bahwa perombakan total sistem distribusi pupuk subsidi harus dilakukan. Ini bisa mengarah pada rekomendasi perubahan, pergantian, bahkan pencabutan keseluruhan izin kios dan distributor,” bebernya.
Ia melanjutkan, tidak menutup kemungkinan pihaknya akan meminta evaluasi besar-besaran terhadap seluruh distributor dan kios yang ada. Permintaan ini akan ditujukan kepada PI selaku Principal importer.
Sebagai informasi, saat ini di Kabupaten Probolinggo terdapat 10 distributor dan 269 kios yang bertugas menyalurkan pupuk subsidi. Dengan kondisi yang terungkap, bukan tidak mungkin seluruh sistem akan dirombak.
“Kami tidak akan membiarkan petani terus dirugikan,” Muchlis memungkasi. (*)
Editor : Mohammad S
Publisher : Keyra